Bila engkau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka Menulislah. [Imam Al Ghazali]

Alasannya Organisasi Mahasiswa Merosot


Pada dasarnya, organisasi mahasiswa memiliki peran yang signifikan dalam sejarah bangsa. Namun sejak 1998, tidak ada lagi gerakan mahasiswa yang dihasilkan organisasi mahasiswa, yang berakibat besar terhadap bangsa. Pengurus organisasi mahasiswa, sebuah jabatan sakral dimasa lalu, sekarang tidak lebih dari "orang aneh sok sibuk yang tak dipeduli" oleh rekan rekannya. Ia bukan lagi tokoh yang diidolakan, dihormati dan dihargai. Gerakan mahasiswa, momok bagi para status quois sekarang tak lebih keren ketimbang demonstrasi bayaran.

Organisasi mahasiswa, intra maupun ekstra kampus, secara umum mengalami beberapa kemunduran. Antara lain, kurangnya kuantitas kader. Kurangnya kualitas kader. Dan terlalu banyaknya dinamika yang kurang produktif yang menghambat perkembangannya.

Organisasi mahasiswa pada dasarnya, "sekolah ekstra" tempat menempa mental dan kemampuan manajerial mahasiswa, menjadi sangat penting untuk dijaga. Sebab kita dapat bayangkan, betapa lemahnya bangsa ini kedepan jika mahasiswa saat ini yang kelak melanjutkan estafet pembangunan, minim pengalaman organisasi.

Cara pandang 70-80an
Agar organisasi dapat bertahan, ia harus mampu menghadapi tantangan zaman. Organisasi mahasiswa di era 80-an, berada dibawah tekanan. Militansi adalah karakter utama gerakannya. Kader ditekankan memiliki militansi yang kuat. Militansi disini dalam artian, kuat memperjuangkan kepentingan umum. Bila dispesifikkan lagi, kuat demo. Cukup modal isu (yang bahkan belum terverifikasi validitasnya), rapat aksi, maka terjadilah demo besoknya. Militan bukan?

Model pengelolaan kaderisasinya yaitu dengan mengandalkan senioritas. Seniorlah yang pegang kendali. Bukankah senior tak pernah salah, dan bila salah kembali ke pasal satu ? Mengapa demikian, karena pada zaman itu, belum ada batasan masa kuliah. Hal wajar bila orang kuliah S1 sampai belasan tahun.

Saat itu, pengurus apalagi ketua lembaga, bagaikan Dewa. Ia dipuja oleh para yunior. Ia menjadi suri teladan yang dihormati dan disegani. Selalu dikawal oleh kawan kawannya, bak artis saat ini.

Memandang tahun 2016
Sejak reformasi 98, banyak perubahan mendasar dalam sistem tata negara kita. Kemudian berdampak pada sistem sosial. Sebagai contoh, terbitnya UU kebebasan pers dan terlepasnya rakyat dari represi orde baru (tuduhan komunis, tuduhan tindak subversif, penculikan, petrus dsb), menjadikan media kita sangat bebas. Ditambah lagi perkembangan teknologi informasi, sehingga informasi semakin mudah diakses. Perang isu menjadi hal lumrah saat ini.

Perubahan lain misalnya dihapuskannya ospek dengan alasan melanggar HAM. Walhasil, taring para senior menjadi ompong. Senior yang mencoba sok jagoan didepan yuniornya, akan menjadi bahan tertawaan. Beda, bila hal itu dilakukan beberapa puluh tahun lalu.

Generasi hedon, sesuatu yang amat langka di era 70, 80 dan 90an, menjadi hal umum saat ini. Budaya hedonisme, membuat banyak mahasiswa tidak lagi mementingkan berorganisasi. Tantangan semua organisasi adalah bagaimana membuat organisasi mahasiswa menarik bagi mahasiswa ditengah budaya hedonisme.

Merosotnya Organisasi Mahasiswa
Jelas, peran organisasi mahasiswa makin merosot akibat terlalu banyaknya dinamika yang tidak produktif, terutama saat suksesi. Selain itu organisasi mahasiswa kurang tanggap terhadap tantangan zaman. Organisasi yang hidup di tahun 2016, tapi paradigma pengelolaannya masih tahun 70-80an. Bila dibiarkan, organisasi mahasiswa diambang kehancuran. Pada gilirannya, akan melemahkan bangsa. Sebab sebuah kekuatan penting, yaitu mahasiswa, tidak lagi memiliki saluran energi positifnya.

Penguatan intelektual
Tradisi membaca, harus kembali dihidupkan. Organisasi mahasiswa semestinya mewadahi hal tersebut. Melalui kegiatan bedah buku atau sejenisnya. Pengadaan perpustakaan. Diskusi berkala. Dan hal hal ilmiah lainnya.

Bukan hal tabu, bila organisasi mahasiswa mengundang pejabat publik untuk meminta klarifikasi atau pencerahan tentang sebuah kebijakan. Ketimbang terburu buru turun kejalan atas isu yang lemah argumentasinya. Sehingga ada perbandingan antara isu, realitas lapangan, regulasi dan kebijakan. Menjadi mahasiswa yang bijak membaca situasi itu lebih baik ketimbang gampang dikompori dengan maksud agar dianggap militan.

Dana Hibah Yes, Transfer Ilmu No



Semua negara di dunia mengakui indonesia kaya akan alam rayanya. Namun indonesia terlihat miskin ketika berapa uang yang dipegang. Selama ini SDM-lah yang mempengaruhi miskin tidaknya suatu negara, karena ia yang mengelola dan mengatur alam, sistem, sosialnya, dan sebagainya.

Nah dalam kasus ini, apakah kita sudah pandai mengelola alam sendiri? Rasanya belum sebab kita masyarakat indonesia cenderung tidak bersabar.

Ingin mendapatkan uang cepat dengan mempersilahkan berdirinya perusahaan asing untuk membantu perekonomian bangsa, lapangan pekerjaan bertumbuh subur. Lalu yang paling menariknya lagi dana hibah selalu hadir dikala indonesia goyah dengan gejolak perekonomiannya.

Secara tidak sadar kita tetap saja menjadi babu, bahkan selamanya. Walau semua persoalan kesenjangan teratasi, ini saja tidak cukup untuk menjadikan bangsa indonesia menjadi sebuah bangsa yang mandiri.

Rakyat terus saja menjadi bangsa pekerja, bukan bangsa pencetus suatu ilmu yang mutakhir. Khususnya dibidang ilmu teknologi modern. Seharusnya kita menolak semacam ini, kecuali dengan syarat mereka orang asing ingin mentransferkan ilmu-ilmu teknologi mereka ke pada kita. Hanya dengan ini kita bisa maju, keras sedikit tidak masalah. Contohi gaya Korut, Kuba, dan Iran yang sedang menuju kesuksesannya dibidang nuklir. Barulah kita lunak dengan mereka setelah berhasil mencuri ilmu teknologi tersebut.

Yang penting strategi untuk memajukan bangsa haus dipakai bukan strategi untuk memajukan perut sendiri. Jadi bersabar dalam bernegara perlu kita tunjukan dengan hal yang satu ini.

Mental, Nalar dan Retrorika Mahasiswa


Banyaknya kesempatan berbicara di muka umum adalah sesuatu yang ternilai dan berharga bagi setiap mahasiswa, sebab untuk melatih dan meningkatkan mental salah satunya. Dengan terbiasa maka rasa canggung akan memudar seiring waktu, lalu rasa kepercayaan diri akan bangkit seketika. Banyak dari mahasiswa belum memaknai bahwa mempersentasikan hasil tugasnya adalah cikal bakal dari berprosesnya mentalitas, retrorika, dan majunya kenalaran dari seorang mahasiswa itu sendiri.

Dalam sebuah persentasi, ketika memaparkan hasil karyanya maka secara sadar kita telah bermain premis, berasumsi, melatih mimik muka, membetuk gerak tubuh yang ideal serta mengatur intonasi suara ketika di hadapan para audiens. Begitu juga dengan moderator, kata-kata yang telah tersusun secara protokoler membuat acara terkesan formal sehingga mental dapat terlatih dengan hal ini.

Ketika mahasiswa hanya mempunyai satu spesialis saja maka dia termasuk mahasiswa yang ingin berada di zona aman terus, tidak ingin keluar mencari ilmu baru agar bertambah kualifikasi spesialisasinya. Padahal inilah hal yang paling dasar, dan paling mudah untuk dilakukan agar kelak kita menjadi mahasiswa yang berpotensi.

Nah, dengan menyadari akan pentingnya pengaruh kegiatan yang ada di kampus terhadap masa mendatang. Maka implementasikan keahlian itu ke dalam suatu wadah yang lebih menarik yakni ke dalam sebuah organisasi. Agar tidak hilang dengan sendirinya karena vakum dari metode perkuliahan tersebut atau seiring melemahnya minat dalam hal membentuk kharakter mahasiswa yang mempunyai potensi pemimpin di masa depan.

Dilema Kata "Petahana" Bagi Mahasiswa


Kurun waktu 1928-2016 ditetapkannya bahasa indonesia menjadi bahasa persatuan indonesia pada tanggal 28 Oktober 1928, banyak sekali pembaharuan dalam upaya mewujudkan bahasa indonesia yang baik dan benar. Mulai dari peralihan bentuk kata dulu yang dimodernkan, penyerapan kata asing, dan munculnya kata-kata baru khususnya di kata baku.

Contoh timbulnya kata baru yakni, "Petahana". Banyak orang awan bertanya-tanya kepada orang yang lebih pintar apasih petahana itu? Mereka yang rutin mengikuti perkembangan perpolitikan di indonesia menjadi bingung dengan munculnya kata yang melekat pada Cagub DKI Jakarta Ir. Basuki Cahya Purnama tersebut.

Pasalnya selain tidak tahu maknanya, mereka tentunya harus membagi konsetrasi antara makna "Petahana" dan mentafsir kata yang sesudah ataupun sebelum kata asing itu. Agar pesan yang disampaikan media bisa ditangkap dengan cerna oleh telinga masyarakat. Sungguh dilema bagi masyarakat kita, dan ini harus kita sadari bentuk perbedaan yang nyata antara mahasiswa dengan masyarakat.

Tetapi, agaknya di kalangan mahasiswa pun begitu juga. Sebab tidak semua mahasiswa pernah menjumpai kata tersebut pada mata kuliahnya. Namun, perlu ditekankan mahasiswa bukanlah seseorang yang kolot, pengertian harus pintar-pintar pun harus kita aplikasikan. Apa lagi terhadap masalah sepele ini yang mengenai pemaknaan kata-kata asing. Pastinya mereka mencari melalui internet, lalu bertanya pada dosen dan paling mudah bertanya pada teman sejawat. Ini juga menjadi dilema bagi mahasiswa, bagi mereka yang belum tahu sampai saat ini terhadap bahasa baku yang digunakan politisi-birokrat indonesia.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Petahana berarti kedudukan, kebesaran, atau kemuliaan, dalam politik, adalah istilah bagi pemegang suatu jabatan politik yang sedang menjabat. Contohnya Ahok yang sekarang sedang menajabat Gubernur DKI Jakarta ingin kembali manju pada Pilgub 2017

Jadi petahana adalahh pemimpin yang sedang menjabat pada saat pemilihan umum untuk pelaksanaan pemilihan berikutnya. Dalam persaingan kursi-terbuka (di mana sang petahana tidak mencalonkan diri), istilah "petahana" terkadang digunakan untuk merujuk kepada kandidat dari partai yang masih memegang jabatan kekuasaan.

Mungkin kata asing berikutnya akan muncul seiringnya kebutuhan akan kata-kata yang baru, tugas kita sebagai mahasiswa ya mau tidak mahu harus mencari makna kata tersebut. Walau kita bukalah mahasiswa hukum atau politik yang dituntut untuk mengetahui, namun apa salahnya kita mengetahui kata baru indonesia, toh untuk kebaikan kita juga ketika berkomunikasi dengan orang yang lebih hebat dari kita. Dan juga bisa sebagai ladang mencari pahala ketika bersedekah kepada yang tidak tahu.

Baca juga artikel : Sedikit Banyak Mahasiswa Harus Tahu Politik

Dunia sekarang telah canggih, internet dimana saja. Mudah untuk kita mencari tahu segala sesuatu. Kemudian, politik pada dasarnya harus di ikuti perkembangannya sebab dengan mengetahuinya kita jadi bisa mengaitkan segala permasalahan yang terjadi di pemerintahan daerah, dilema kampus hingga kebutuhan pribadi sendiri.

PMII Karimun Menghadiri Upacara Pembuka TMMD Kepri ke-97





Selasa, 21 September 2016 PMII PC Karimun menghadiri upacara pelaksanaan kegiatan TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-97 pagi tadi di lapangan sepak bola, Desa Parit 2, Kecamatan Karimun.

Upacara sekaligus peresmian TMMD ini di resmikan oleh bapak Bupati Karimun Aunur Rafiq S.Sos., M.Si sekaligus menjadi pimpinan upacara. Dalam sambutannya beliau mengatakan pemerintah daerah Kabupaten Karimun sangat mendukung sekali kegiatan dari Dandim 0317/TBK Letkol Inf IGK Artasuyasa ini.

TMMD dipusatkan di Desa Parit, Kecamatan Karimun dan Kelurahan Darussalam, Kecamatan Meral Barat serta Kecamatan Kundur. Hadir pula Komandan Korem 033/WP Brigjen TNI Fachri beserta rombongan ibu-ibu Persit Kartika Candra Kirana, dan Danlanal Letkol Laut (P) Bina Irawan Marpaung lalu seluruh prajurit TNI juga mengisi barisan pada pagi tadi yang terdiri dari 3 mitra yakni dari Kodim 0317 Tanjung Balai Karimun, Lanal Tanjung Balai Karimun serta beberapa anggota perwakilan dari Lanud Tanjung Pinang.

Selain membantu membangun desa secara fisik, TNI juga turun ke desa membantu membangun SDM masyarakat. Sasaran program TMMD yang akan dilaksanakan di Kabupaten Karimun tahun ini antara lain Koramil 01/Balai melaksanakan semenisasi di Desa Parit, Koramil 03/Kundur melaksanakan pekerjaan boxculvert dan Gorong-gorong, Koramil 04/Tebing melaksanakan semenisasi di RT 02 RW 03 Kelurahan Darussalam Kecamatan Meral Baran.

Berikut foto kegiatan tadi pagi.




Revolusi Akal Sehat


Terima kasih kawan. Kalian telah memulai membaca wacana ini. Teruskan, jangan berhenti hingga selesai. Apapun warna kulitmu, apapun agamamu, apapun jenis kelaminmu, kalian adalah sekumpulan orang yang saya sebut Maha dan Siswa. Bukan siswa, sebutan remaja yang masih berkutat dengan meja dan buku. Tapi kata yang di tambah Maha, menurut saya hebat akalnya, retrorikanya, hingga perasaan yang bernuansa kritis tanpa terkikis hingga usia menipis.

Inilah kisah Mahasiswa yang hidup di istana tempat ia meraih gelar sarjana. Kisah ini tidak selayaknya di publikasi ke umum, namun tujuan sebenarnya adalah generasi sesama, jadi apa boleh buat, wadah saja tidak disediakan, untuk menyalurkan keluh kesah kami. Mulai dari perilaku pengajar kami, lapak tanah yang tidak tahu pemiliknya, dan parahnya lagi keadaan anak didiknya yang dipaksa -walau hanya sebagian- untuk banting tulang dalam. membayar kewajibannya. Bukan salah pendidik, bukan juga yang di didik, terlebih lagi yang menciptakan serta merumuskan tempat mendidik tersebut. Semua biarlah berlalu, kini bukan lagi memikirkan yang dulu. Tetapi memikirkan hari ini, esok dan tahun depan. Bukan untuk perut, sanak, atau pun jabatan, tetapi berfikir untuk peradaban daerah yang sudah jauh tertinggal ini.

Akhirnya lagi-lagi peran Mahasiswa yang harus menjadi produser hingga aktor, lakon harus di mainkan seperti tujuan awal. Yakni menjadikan tempat calon sarjana ini menjadi lebih baik -katakanlah dari yang berswasta menjadi negeri. Dan dosen tidaklah di belakang seperti kebanyakan orang mengatakan kami di belakang mendukung kalian. Tetapi juga ikut berperan, bukan hanya berakselarasi di kala Mahasiswa telah sukses dengan tujuannya dasarnya. Dosen juga harus ikut bersama Mahasiswa menciptakan isu yang patut diperjuangkan demi kemajuan peradaban.

Jadilah seolah kalian anak tempatan, berilah sepercik harapan bagi mereka yang menginginkannya walau terkadang rasa ketidakpastian kalian terbesit. Bukan saja Mahasiswa, dosen atau para penduduk kampus yang giat menyuarakan ini, semua elemen patutnya menyadari dengan merespon dan menindaklanjuti apa yang seharusnya dilakukan -ibarat mencari jalan tengah. Bagi sesama akademisi, pejabat, pengamat dan birokrat juga tidak ketinggalan. Khusus nama yang terakhir ini, baiknya wacana yang telah dinantikan Mahasiswa diketengahkan dalam setiap agenda. Demi keberlangsungan memajukan daerah oleh Mahasiswa tempatan, bukan orang luar.

Lebih logis lagi. Tujuan pendidikan di suatu daerah demi memeratakan kemajuan berfikir, bukan hanya terfokus di satu tempat, pantaskah sebutan “kolot” dalam berfikir bagi penguasa negeri ini, jika hanya satu suku, ras, agama yang di prioritaskan?? Pemerataan itu perlu, hanya dengan hal keilmuanlah kemakmuran, kesejahteraan, ketentraman bisa tersaji. Serta konflik dan kesenjangan sosial, kebodohan atau cara pandang yang lemah boleh jadi, akan teratasi dengan adanya reformasi pendidikan.

Liat saja, sekarang gaung timur ingin dijadikan poros maritim nasional. Demi terwujudnya keinginan raja untuk mendunia dalam hal maritim. Lalu barat, bukan jawa. Kepri yang nyatanya sangat tepat dikatakan maritim karena tergugus dari pulau berpotensi sangat baik dalam menopang kemajuan nasional jika didahulukan. Adakah indikasi ketakutan dari raja, atau pusat tidak menyanggupi bila mana Kepri menjadi maju dan berani menjadi kerajaan sendiri sebagaimana kerajaan Riau-Lingga dahulu.

Bisa saja terjadi, bila anak tempatan telah berubah menjadi sarjana hukum, hingga profesor hukum. Hukum maritimpun bila berada di pundak anak tempatan tidak menutup pintu, bahwa Kepri bisa saja menjadi sebuah kerajan baru yang berlabel republik.

Akhirnya, ini hanya sebuah karya kosong, tulisan yang tak masuk akal. Penuh ketidakpastiaan, dan biarkan kata-kata ini di rajut oleh orang-orang yang peduli. Peduli terhadap peradaban indonesia barat laut terutama. Dan semoga kata yang berbingkai harapan ini kembali di muat pada hari yang di tunggu-tunggu. Yakni hari reformasi akal sehat.

Tulisan ini juga di muat pada media online Lihatkepri.com/lihat opini/Reformasi Akal Sehat

Sosialisasi LDK Universitas Karimun Kepada Calon Mahasiswa Baru

Assalamualaikum Wr. Wb

Dalam mememuhi tuntutan zaman agar terwujudnya manusia yang berkualitas baik secara duniawi maupun surgawi maka LDK Universitas Karimun melakukan sosialisasi pada calon mahasiswa baru di kampus Universitas Karimun.

Pengenalan terhadap UKM berkonteks agama islam ini diketuai oleh saudara Ahmad, dalam sambutannya ia menjelaskan beberapa materi di antaranya visi misi, struktur, program kerja, dan lain-lain. Tak lupa juga hadir salah satu alumni LDK Universitas Karimun untuk memotivasi kepada calon mahasiswa baru.

Sambil melakukan sosialisasi pihak LDK Universitas Karimun juga melakukan open rekrutmen anggota baru, untuk melengkapi struktur organisasi yang ditinggalkan oleh mahasiswanya setelah habis masa perkuliahan. Di harapkannya dengan adanya kegiatan ini calon mahasiswa baru bisa mengerti akan pentingnya memikirkan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan kehidupan akhirat.

Berikut foto-foto kegiatan yang dilaksanakan pada Sabtu, 17 September 2016.







By : Kabid Dokumentasi LDK Universitas Karimun

Mapala Gunung Jantan Universitas Karimun Unjuk Gigi Pada Mahasiswa Baru

Salam lestarii..!!

Slogan seperti di atas selalu melekat pada mahasiswa pecinta alam ini seakan menjadi roh bagi mereka. Begitu la yang terjadi pada acara perkenalan UKM Universitas Karimun di sekretariat Mapala Gunung Jantan Universitas Karimun tadi.

Antusiasnya para calon mahasiswa, membuat para panitia dari pihak Mapala semangat untuk memperkenalkan UKM-nya yang berbasis edukasi ini. Sebelum kata sambutan Ketua MGJ Universitas Karimun, Wisnu Priambodo. Menjadi pembicara awal adalah Dony cacing, cacing adalah sebuah istilah dari nama rimba di lingkungan MGJ Universitas Karimun. Ia merupakan salah satu perintis yang membuat eksitensi MGJ UK dapat dirasakan hingga sekarang.

Acara tersebut juga di hiasi dengan atraksi Rappelling, dan juga perkenalan untuk alat-alat ketika out dor seperti tenda, tas ransel, sepatu khusus, topi lapangan, dan lain-lain.

Foto kegiatan Mapala Gunung Jantan Universitas Karimun