Bila engkau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka Menulislah. [Imam Al Ghazali]

Evaluasi Pembelajaran Bagi Dosen dan Mahasiswa (EDOM)


Dengan mengisi EDOM berarti mahasiswa telah berpartisipasi untuk membantu meningkatkan mutu pembelajaran. EDOM bermanfaat bagi dosen untuk memperbaiki diri bila memang masih terdapat kekurangan serta mengembangkan potensi dan kelebihan yang dimilikinya. Bagi manajemen Universitas, fakultas, dan departemen (program studi), hasil EDOM dapat dijadikan acuan dalam menyusun program peningkatan mutu proses pembelajaran dan kinerja dosen. Dan yang terpenting bagi mahasiswa, dapat merasakan peningkatan mutu proses pembelajaran yang terus menerus.

Salah satu bagian untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi pedagogik (seni menjadi guru) dosen adalah penilaian dan evaluasi pembelajaran. Kuesioner menjadi salah satu alternatif cara yang bisa digunakan oleh pihak pendidik untuk menilai dan mengevaluasi kompetensi pedagogik yang dimilikinya. Cara ini tentu akan mempermudah dosen untuk melakukan perbaikan terhadap berbagai hal yang terkait dengan proses pengajaran di kelas. Metode ini bisa digunakan ketika proses perkuliahan akan selesai dalam satu semester sehingga proses penilaian dan evaluasi dilakukan setiap semester. Tidak hanya untuk menilai kompetensi pedagogik dosen, kuesioner tersebut juga bisa digunakan untuk mengevaluasi mata kuliah yang ditawarkan kepada mahasiswa. Dengan kata lain, metode ini juga bisa digunakan untuk menilai dan mengevaluasi substansi dari mata kuliah yang diajarkan dalam proses perkuliahan.

Kuesioner penilaian dan evaluasi pembelajaran tersebut juga sebenarnya bisa dijadikan sebagai survey kepada mahasiswa terhadap tingkat kepuasan mereka terhadap pelayanan yang diberikan selama proses perkuliahan. Dengan kata lain, kuesioner tersebut bisa menggunakan indikator berupa angka-angka yang menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap sebuah pernyataan. Selanjutnya, mahasiswa hanya memberikan penilaian terhadap pernyataan-pernyataan yang tertuang di dalam kuesioner tersebut. 

Silabus Adalah Indikator Hasil Mengajar Dosen Terhadap Mahasiswa


Setiap dosen mempunyai cara dan metode megajar yang berbeda-beda, perlu disadari bersama bahwa cara yang menoton membawa keburukan pada mahasiswa dan juga dosen itu sendiri. Ketika dosen dituntut untuk merubah metode pengajarannya dengan cara keinginan mahasiswa maka penyesuaian akan memakan waktu, sehingga kreatif dan inovasilah yang sekarang perlu diperlihatkan.

Dalam berkreasi perlu adanya pedoman/petunjuk dari mata kuliah yang di ajarkan tersebut agar tidak banyak di isi degan ilmu-ilmu di luar konteks mata kuliah. Yakni silabus, suatu rencana pembelajaran pada sebuah mata pelajaran yang wajib meliputi komponen-komponen penting, mulai dari standar kompetensi, kompetensi dasar, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator, penilaian, alokasi waktu, hingga sumber belajar. Alhasil dosen yang menggunakan silabus akan mengetahui dan bisa menilai berhasil atau tidaknya ia mengajar pada mata kuliah tertentu dalam satu semester, hematnya silabus dipakai sebagai pedoman para dosen untuk menyusun rencana dan menjalankan program perkuliahan.

Suatu hal kewajaran dalam proses berkuliah sesuatu ilmu yang diajarkan melenceng juga dibahas namun dalam skala yang wajar saja. Tetapi ketika seorang pengajar sudah terlalu asyik dengan mengulas bahan diluar konteks makul yang di ajarkannya patut dipertanyakan hal tersebut. Apakah ada unsur kesengajaan agar mencairnya suasana dengan komplikasi dari berbagai hal menarik seperti pengalaman, pekerjaan serta harapan? Atau spontanitas akibat kurangnya bahan serta faktor-faktor yang menunjang dalam mengajar makul tersebut??

Mengkritisi Persoalan Politik Indonesia Terhadap Potensi Anak Muda


Patut di apresiasikan sekali ketika di tengah kekaguman rakyat akan seseorang yang dipandang integritasnya melebihi kandidat lain dalam pemilihan kepala daerah atau atau pun pemilihan presiden. Munculnya muka baru yang katakanlah bersih dan jernih dari intrik-intrik kotor dari bekas masa lalunya, apa lagi para anak muda tersebut bertolak dari latar belakang yang berbeda lalu berhasrat mengabdi pada negara dan bangsa melalui jalur politik. Sudah banyak contoh potensi anak muda yang unjuk gigi di perpolitikan tanah air bahkan dunia, untuk di indonesia sendiri mungkin sudah banyak yang mengenal Anis Baswedan (calon pilgub DKI Jakarta 2017) , lalu Anis mata (presiden PKS), serta tak ketinggalan Tifatul Sembiring (mantan menkoinfo), Imam Nahrowi (menpora) lalu yang menoreh di kelas dunia kita pun punya seorang mantan menteri luar negeri yakni Marty Natalegawa.

Mereka ini memiliki backgorund yang berbeda dan kualifikasi yang dimiliki tidaklah sama, namun kehebatan skill masing-masing di sandingkan dengan keberanian mereka untuk ikut terjun politik yang selama ini hanya di isi oleh orang-orang yang berkirsar 50-an tahun ke atas sungguh hal yang sangat baik untuk diikuti. Dari sisi agama umur di bawah 50 tahun apalagi mendekati 40 tahun, adalah puncak dari kematangan pola fikir berproduktif sebagaimana kepercayaan umat islam yang di alami oleh nabi Muhammad Saw.

Sebenarnya, ini adalah sebuah terobosan yang baik sekali dalam dinamika perpolitikan di indonesia yang selalu di isi oleh para politikus senior. Memang, pengalaman adalah hal penunjang dalam berpolitik agar bisa dikatakan politikus ulung. Namun ketika bermanuver dalam perhelatan politik indonesia, politikus senior cenderung mempunyai misi ganda bahkan lebih dalam merebut kekuasaan tersebut. Katakanlah mereka telah menjadi anggota dewan pada periode sebelumnya, ketika mencalonkan yang berikutnya bahkan yang ke seterusnya cenderung mempunyai ambisi lebih dari mengabdi kepada negara. Lebih disini dalam arti negatif, seperti mementingkan suatu golongan, individu, sanak keluarga dan teman karib yang telah membantunya pasca dilantiknya menjadi dewan atau jabatan tertentu lainnya.

Seyogyanya kita berfikir bahwa politik indonesia sampai hari ini masih membangun dogma primitif, yakni kekuasaan diperalat menjadi tujuan hidup demi kesuksesan yang di anggapnya. Dogma ini akan terus berkembang jika sistem politik indonesia tidak pernah dibahas dengan serius untuk di rubah pengelolaanya, walau SDM yang berkualitas selalu bermunculan namun ketika permasalahan yang di anggap lumrah ini di tutup dengan sebelah mata, maka mereka salah satu bagian dari bandit-bandit serakah akan kekuasan, walau dengan berdalih kepentingan lain juga patut di rumuskan.

Momentum Untuk Anak Muda yang Kritis Terhadap Perpolitikan di Indonesia

Angin segar dibawa melalui partai demokrat untuk kalangan anak muda yang berhawakan semangat dan berselimut kegalauan politik buruk indonesia, belakangan ini anak muda dinilai tidak fokus terhadap politik contohnya saja dalam hal memilih pemimpin. Beda ceritanya dengan pemuda/i yang aktif dan pasif pada pentas perpolitik tanah air, politik seakan sarapan pagi bagi mereka yang bernotabane mereka dari golongan aktivis dari kampus. Namun mereka yang khususnya mahasiswa diluar konteks politik, agaknya mulai terikut arus karena suatu terobosan besar yang tidak di duga oleh para pengamat tanah air terhadap yang dilakukan oleh ahli startegi dari cikeas. Walau tidak eksklusif mengikutinya namun pengetahuan akan dunia politik di domisilinya memberikan sinyal bahwa pemuda indoesia kini telah sadar dengan pentingnya untuk individu dan keluarga dalam menumbuh-kembangkan politik secara nasional maupun lokal. Sehingga hal-hal positif seperti memotivasi kaum muda dalam berpolitik mengurusi negeri, lambat laun akan muncul seiring menariknya perpolitikan sekarang. Lalu mengurangi golput juga suatu keharusan, dan tak ketinggalan lahirnya pemuda/i dalam pentas politik indonesia.

Refleksi Sejarah Reformasi Bangsa Indonesia
Indonesia telah melakukan perubahan besar yang terjadi pada tahun 1998, artinya bangsa ini telah berumur 17 tahun dalam hal mereformasi ketatanegaraan indonesia. Dengan usia semuran jagung kita masih perlu beberapa tahun lagi untuk menjadi negara yang benar-benar menganut paham demokrasi. Lihat amerika, butuh ratusan tahun agar bangsanya menjadi negara demokrasi yang sesuai dengan kriteria adat istiadat, keberagaman suku ras agamanya. Banyak perubahan-perubahan selama ratusan tahun tersebut sehingga telah mengalami 14 kali amandemen pada era rekontruksi, dampak dari perubahan / terobosan seperti ini hasil akhirnya menemukan suatu sistem yang tepat di wilayah itu sendiri.

Ketika reformasi pada tahun 1998, kita rakyat indonesia telah terlepas dari sistem orde lama yang bertemabesarkan tentang kekuasan di pergunakan untuk kepentingan sendiri serta keluarga, rakyat dan negara belakangan untuk difikirkan. Pada masa presiden Soeharto memang banyak sekali pembangunan yang diwujudkannya, maka wajar ia populer dengan sebutan bapak pembangunan, namun terlepas itu berapa banyak kasus korupsi yang diduga pemain tunggalnya ia sendiri bahkan anaknya yang sampai sekarang belum juga tuntas. Jadi, disini selain tugas jadi presiden dalam hal mengatur negara, hal pribadi dan keluarga telah menjadi nomor satu dalam segala hal dan kebijakannya.

Alhasil tepat sekali ketika Prof. Amien Rais beserta kawan-kawan pada waktu itu berhasrat untuk merubah bentuk ketataegaraan bangsa indonesia ke arah yang lebih demokratis dan sosial. Beberapa kebijakan yang jitu terbukti telah menghancurkan sistem lama yang sangat buruk tersebut. Salah satunya ialah membatasi periode presiden menjadi 2 priode dimana setiap priode berjarak hanya 5 tahun. Serta hierarki lembaga sekarang menjadi horizontal tidak seperti dahulu vertikal. Pemimpin tertinggi bukan lagi lembaga MPR, semuanya sejajar tetapi saling mengawasi.

Politik Itu Citra dan Strategi Berada di Dalamnya

Keberanian SBY mengusung anaknya juga tidak terlepas dari kemampuan Agus itu sendiri, melihat sisi akademisnya ia merupakan orang yang selalu berada di posisi terdepan maka inteletualnya tidak diragukan lagi apalagi di bidang militer. Dengan dasar seperti ini boleh jadi ketika berhadapan pesaingnya di panggung politik, sisi intelektual Agus akan semakin melejit seiring jiwa mudanya terus membakar rasa keraguan orang lain terhadapnya.

Berbicara masa depan maka hanya teoritis saja yang di ulas, perkembangan dan kejayan peran kaum muda belumlah meroket dengan para kaum senior. Namun contoh kongkrit dari peran kaum muda bisa dilihat dari kiprah Dr. Raden Marty Natalegawa tatkala dia satu-satunya yang bersikap abstain ketika Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa sepakat menjatuhkan sanksi baru bagi Iran, terkait dengan masalah sengketa atom. Resolusi itu diambil lewat voting, dari 15 negara anggota Dewan Keamanan PBB, 14 negara menyetujui, hanya Indonesia satu-satunyanya.

Mungkin menurut kita itu bukan idenya karena boleh jadi ada desakan desakan dari golongan tertentu, namun terlepas dari itu semua saya yakin dan percaya bahwa sifat anak muda -apa lagi ketika dia merasa yang paling muda di suatu forum- yakni berani mengambil sesuatu yang spektakuler namun terkesan inapiratif berbalut solusi, ketimbang para senior dengan kebijakannya seperti biasa pada sebelumnya dan cenderung monoton. Jadi saya pikir hidup ini penuh yang namanya terobosan. Kemudian dengan fenomena terjunnya anak muda ke panggung politik khususnya di pilgub DKI Jakarta 2017 mengisyaratkan momentum akan terwujudnya budaya reformasi politik yang baru, dimana kedepannya di dapatkan suatu sistem politik yang bersih, aman, tidak ada praktek ilegal dan secara definitif di sahkan sebagai landasan baru dalam berpacu di kancah politik indonesia.

Seperti sesuatu momentun akan bertumbuh-kembangnya perpolitikan indonesia menjadi lebih baik. Dimana anak muda yang hari ini secara aktif akan berdampak pada masa 20 ke depan, ketika itu mereka yang hebat di generasinya beralih posisi dari politisi menjadi pengamat atau akademis politik. Siklus seperti di atas sebenarnya harus difikirkan sejak sekarang, dan sangat mutlak bila selama ini politik indonesia cenderung di anggap buruk oleh kalangan ekonom, akademisi, para dokter, pengamat, pedagang, nelayan dan lain sebagainya akibat perencanaan yang kurang tepat. Lalu, bukan hanya sistem suatu program dari perpolitikan itu saja di bentuk dan dikembangkan oleh generasi penerus, tetapi juga wadah -politik indonesia- juga patut di sadari sebagai subyek yang ia juga tak luput dijadikan bahan riset untuk berangkatnya indonesia menuju generasi emas. Serta bukan hal yang tidak mungkin generasi muda yang tergolong minim dalam dunia politik ini bisa familiar dengan konsep politik seiring semaraknya pertunjukkan politik yang di bangun.

Meski saya mendukung adanya kaum muda berpolitik, namun tidak secara berbondong-bondong, sebab khawatir aspek lain juga membutuhkan peran kaum muda. Saya sangat mendukung sekali ketika para kaum muda digalakkan untuk berbisnis. Terlalu banyaknya politikus dan birokrat boleh jadi dengan di tambahnya pemikiran primitif bangsa indonesia akan lambat untuk maju akibat birokrasi yang berbelit yang berpunca dari jatah setiap pintu.

Bisnis dalam arti berdagang berkaitan erat dengan berpolitik, 2 hal ini selama ada makhluk maka akan berjalan. Namun yang lebih utama penerapan yang begitu penting ketimbang salah satunya adalah berbisnis. Bukankah dengan perekonomian yang stabil maka politikpun akan adem, jika sebaliknya maka bisa saja politik tersebut tidak ada pergerakan yang memadai hanya berada di zona aman.

Media Pisau Bermata Dua


Kehebatan dunia teknologi membawa angin segar dalam kemajuan di dunia dan memudahkan para penggunanya, terutama manusia, objek dari terciptanya teknologi tersebut. Namun dalam perkembangannya teknologi telah berubah menjadi senjata yang bermata dua.

Di satu sisi untuk kebaikan dan sisi lain sebagai keburukan, walau di pandang lebih banyak manfaatnya dari pada keburukannya. Namun tidak boleh dipandang dengan sebelah mata, justru secara perlahan tapi pasti akibat timbul dari keburukan itu maka kebaikan dari teknologi akan memudar ketika objeknya -manusia- telah berangsur salah dalam menggunakannya.

Contohnya dunia maya. Apasih kegunaan dari FB, Twiter, BBM, dan lain-lain? Tentunya fungsi utama dari media tersebut agar mudah berinteraksi dengan orang lain secara eksklusif walau jarak yang jauh, lalu mengirim foto, file, hanyalah sarana sebagai pendukung dalam efektivitas interaksi seseorang. Kemudian memajang foto dan mengungkapkan perasaan/status juga bagian dari opsi terhindarnya monoton pada media tersebut.

Namun, media sekarang telah salah diartikan oleh sebagian orang. Menghumbar aib orang bahkan sendiri kini sepertinya hal yang lumrah, belum lagi memajang foto yang tidak senonoh dan kata-kata kotor. Mungkin hal ini diluar sadar mereka, tetapi boleh jadi juga kesengajaannya agar terlihat sesuatu yang menarik sampai-sampai ingin mendapat suatu pujian yang diinginkan.

Memang, kita tidak bisa mendikte niat seseorang. Tetapi dari kata-kata dan argumen yang lontarkan yang melihat tentu mempunyai pandangan tersendiri. Dan kebanyakan dari mereka menginginkan pengakuan yang beragam. Pengakuan tersebut seakan mengharap sesuatu yang lebih, terkadang juga menjadi ajang tempat mencari citra.

Membangkitkan Peran Media Penerangan Secara Tepat Dalam Mendorong Semangat Budaya Literasi Di Masyarakat


*Tulisan ini adalah bagian dari kegiatan lomba esai dengan tema meningkatkan budaya literasi

A. ABSTRAK 
Membangun budaya literasi dalam konteks agama sangat di anjurkan sekali, karena Nabi Muhammad saja dalam sejarah umat muslim ketika mendapatkan wahyu yang pertama bukanlah mendengar yang ia lakukan, tetapi membaca surah Al-Alaq ketika malaikat jibril menyuruhnya. Selain membaca, menulis juga adalah bagian dari pengertian literasi. Ketika para pemuka ulama dahulu tidak melakukan budaya literasi boleh jadi ilmu apa yang kita dapati sekarang –bacaan sholat, mengaji yang baik, bacaan doa khusus, dll- belum tentu sama seperti yang diajarkan oleh Rasulullah terhadap sahabat dan para pengikutnya.

Memasuki ke abad 21, masyarakat sekarang cenderung menginginkan segala sesuatu yang bersifat instan, sehingga sifat mentalitas yang praktis tersebut membuat budaya literasi seolah menjadi tantangan yang berat dengan menilainya sebagai sesuatu yang memiliki prosedur, formal, serta sulit untuk dilaksanakan.

B. ISI
melakukan budaya literasi adalah organ terpenting dalam menciptakan masyarakat yang berilmu, lebih spesifikinya lagi seseorang yang melaksanakan budaya tersebut dapat menuju manusia yang berkepribadian unggul contohnya berfikir kritis terhadap permasalahan yang ditemukan, dapat menemukan solusi, dan juga tentunya sebagai media dalam menyampaikan informasi seluas-luasnya kepada khalayak umum.

Sekarang ini masyarakat disibukkan dengan kehidupannya yang tanpa sedikitpun pengetahuan didapati dari budaya literasi. Karena mereka pada umunya masih menggangap bahwa budaya turun temurun sudah lebih cukup mutakhir ketimbang mencari ilmu dengan membaca buku di perpustakaan. Syukur masyarakat sekarang masih ada yang semangat membaca secara online, dari pada yang sama sekali tidak, dan enggan mengunjungi perpustakaan?

Tulisan ini mengangkat judul “Membangkitkan Peran Media Penerangan Secara Tepat Dalam Mendorong Semangat Budaya Literasi Di Masyarakat” , Makna judul di atas bukanlah membangkitkan media penerangan yang dimiliki instansi penerangan terkait seperti TNI, POLRI, dan instansi lainnya dalam hal menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan berita yang panjang atau imbauan yang penuh dengan peraturan. Namun dalam arti yang lebih kecil, yakni menyampaikann pesan-pesan budaya literasi melalui dua jurus jitu yang sampai saat ini belum di optimalkan.

a) Reklame
Kecendrungan masyarakat Indonesia dalam hal membedakan antara pengertian reklame dan pengertian iklan membuat para pegiat pembaharuan literasi harus bekerja ekstra keras. Pasalnya bukan masalah seperti di atasnya saja masyarakat salah kaprah dalam memaknai suatu kata. Contohnya di daerah Kabupaten Karimun, ramai masyarakat Karimun khususnya para pemuda-pemudi yang menilai bahwa kata “honda” adalah sama seperti “sepeda motor”. Padahal “Honda” adalah merek/jenis dari sepeda motor itu sendiri, belum lagi dengan popok bayi yang disamakan dengan “pampers” yang seharusnya nama tersebut adalah sebuah nama jenis barang yang diproduksi oleh perusahaan indonesia

Budaya semacam ini sepertinya telah menjalar hingga ke anak-anak kecil dan juga tak kalah hebatnya kaum dewasa juga telah menggunakan kata-kata seperti di atas. Biarlah kata “kami” yang dalam konotasi bahasa melayu mengandung unsur “saya” namun lebih dari satu sebenarnya, digunakan oleh masyarakat Karimun karena menganggap bahwa ungkapan tersebut lebih terkesan sopan, dan halus apa lagi ketika berinteraksi kepada orang lebih tua darinya. Lalu jangan sampai kata-kata yang berikutnya menjalar menjadi bermakna plural sehingga yang menangkapnya berbeda adanya akibat golongan dan status sosial yang berkotak-kotak.

Terarahnya Pesan Reklame Membawa Angin Segar
Reklame juga ada kata-kata yang termasuk ke dalam kategori semboyan atau motto, bukan saja kata untuk mengajak dan melarang tetapi ada juga kata yang bertujuan untuk menyemangati orang lain.
Sejak perkembangannya ilmu psikologi manusia telah di perkenalkan dengan permainan kata-kata dalam hal menghibur diri secara pribadi terlebih untuk memotivasi diri sendiri, hal tersebut sering dikatakan dengan motto hidup. Motto memiliki peran yang sangat berarti dalam perjalanan manusia menuju kehidupan dunia lain, dengan adanya kata-kata yang  tersusun sedemikian menarik, heroik dan terkadang mengunggah jiwa hingga menuruti kata tersebut, tidak sedikit manusia sampai hari ini sukses dengan tetap teguh memegang semangat motto hidupnya tersebut. Lalu, tidak diragukan lagi bahwa motto tersebut bukan hanya sekedar pajangan dalam dinding rumah, yang secara sekilas hanya untuk di baca, sesungguhnya ia memiliki makna yang begitu besar bagi sang pemilik rumah.
Bila ditinjau dari etimologinya, reklame dan iklan mempunyai makna yang setara. Iklan dari kata I’lan (bahasa Arab) berarti seruan yang berulang. Maka kedua istilah yang terkait dengan media periklanan ini mengandung makna yang setara yaitu untuk kegiatan penyampaian inrformasi kepada masyarakat atau khalayak umum.

Melebihi Dari Mengajak dan Melebih Dari Menakuti
Dari data empiris yang ada, pelaku yang meletakkan iklan di papan reklame mayoritas di dominasi oleh pemerintah bukan masyarat yang memiliki bisnis untuk di pajang produknya di papan reklame. Berbagai instansi memiliki papan pengumuman, himbauan atau informasi yang terletak khusus dan sudah di atur oleh dinas yang terkait, serta lokasi yang diletakkan pun harus strategis. Mari kita papan reklame besar yang berjejeran rapi di simpang tiga RSUD Poros, Kapling, Kecamatan Tebing, Kabupaten Karimun. Sedikit sekali yang ingin meletakkan iklan yang bertemakan menghidupkan budaya literasi. Jangankan untuk menggalakan hal ini, untuk memasarkan produknya saja pengusaha masih enggan, sebab mereka tahu bahwa budaya membaca tidak begitu tinggi di Kabupaten Karimun.
Adanya papan reklame adalah angin segar bagi dunia literasi, budaya melihat, membaca akan tersaji di suatu daerah. Dalam menyampaikan pesan dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya dengan media menulis bisa disejajarkan dengan media lisan, walau budaya literasi belum optimal diterapkan. Nah, dengan terstrukturnya pesan-pesan yang disampaikan bukan tidak mungkin budaya lisan tersebut lambat laun berubah menjadi budaya menulis dalam hal menyampaikan informasi yang luasnya. Hal ini dapat terwujud jika dalam papan reklame di tampilkan “frasa” yang lebih mendalam dari segi manfaat budaya literasi, resiko buruknya jika tidak membangun budaya literasi secara gamblang, dan bentuk pemaparannya juga secara eksklusif menuju tepat ke intinya. Bahkan kalau bisa terkesan menakuti masyarakat bila hal ini di indahkan.

Kenapa sampai begitu ekstrim? Menakut nakuti masa depan bangsa ini ke pada masyarakat. Seyogyanya literasi adalah gerbang pembuka bagi terbangunnya generasi penerus pembangunan bangsa, jadi mau tidak mau suka tidak suka jalan kita hanyalah memaksa masyarakat, dengan bentuk menakuti mereka.

Contohnya iklan yang ada pada bungkus rokok “Rokok dapat menyebabkan gangguan serangan jantung, hipotermia, gangguan pada wanita hamil, dan sebagainya” kata-kata seperti ini lebih baik dari pada hanya dengan kata-kata yang maksud melarang rokok tapi tidak mendekat ke arah penyakitnya, hanya bersifat umum saja. Sekarang tema membangun karakter bangsa dengan budaya literasi, seperti “Buku adalah jendela ilmu” saya rasa belum cukup efektif, lebih baiknya dengan kata “Enggan membaca kebodohan yang didapati”

Maka pesan-pesan yang disampaikan langsung terpatri ke dalam benak masyarakat. Dalam ilmu psikologi, bahwa sesuatu yang menarik untuk dipandang –juga dibaca- akan membawa perubahan dalam pola fikir mereka. Bukan hal mustahil bila dari salah satu pembaca papan reklame akan memilik hasrat untuk mewujudkan seperti kata-kata yang ada di papan reklame tersebut. Seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Karimun. Penulis menilai bahwa dengan keberhasilan Kabid Humas Pemkab Karimun dalam mengelola media penerangan seperti slogan yang terpasang di papan reklame, membawa porubahan yang begitu besar. Terbukti dengan di raihnya piala adipura oleh kabupaten karimun, adalah berkat kerja keras dari Pemerintah Kabupaten Karimun dalam mensosialisasikan akan pentingnya Sabtu Bersih. Semboyan yang digalakkan oleh Bupati Karimun, H. Anur Rafiq, S.Sos, M.Si.

b) Slogan
Slogan terambil dari kata dari istilah dalam bahasa Gaelik, sluagh-ghairm, yang berarti "teriakan bertempur". Sama seperti motto, slogan pun dapat menjadi sebuah motto alternatif bagi orang khusus yakni mereka yang belum kenal dengan dunia literasi dan belum secara mendalam. Melihat perkembangan dunia yang begitu pesat dan serba canggih, membuat slogan amat dibutuhkan. Dimana saja perlu yang namanya slogan, di lingkungan perusahaan, perkantoran, organisasi dan lain-lain. Di manapun slogan berada tentunya mempunyai misi yang ingin di sampaikan dari sang pembuat, namu saat ini slogan sudah seperti tulisan kotor yang terpajang di tempat yang di perselisihkan. Contohnya tempat pembuangan sampah. Walau sudah di himbau untuk tidak membawa sampah di sini, namun tetap saja di indahkan oleh pembuang. Hal ini menjadi salah satu biang dalam menetapkan slogan yang berujung konflik yang mangandung unsur SARA.  Yakni seperti – maaf jika terlalu lancang. “Anjing yang membuang sampah di sini”.

Menurut saya sebaiknya slogan dengan kata yang sopan namun terkesan mendidik ke dalam agama “Alam akan marah jika sembarangan membuang sampah. Ingat!! Bencana di depan mata anda.” Memang, jika difikir-fikir mereka akan tetap membuangnya tapi apakah makna slogan yang sopan di atas bertahan lama di benak mereka dibanding dengan slogan yang bergaya kasar? Tentu iya, dan lambat laun mereka pastinya sadar sendiri, terlebih bencana benar terjadi di hadapannya.
Kini saatnya merevolusi bangsa kita dalam budaya literasi, budaya yang lama itu adalah metode kuno yang sudah bukan lagi dizamannya. Sekarang eranya beretrorika dalam hal apa pun, hanya dengan permainan kata orang bisa terpengaruh.

Tidak Ada lagi Toleransi Terhadap Makna Pada Slogan
Setali tiga uang, slogan juga selayaknya dipandang sebagai ungkapan yang langsung mengenai hati pembaca, bukan kata-kata yang bertele-tele dan masih memiliki gaya lama mengikuti kata-kata trend dulu. Seharusnya memiliki variasi khusus dan tidak disamakan dengan pengaruh zaman modern ini sehingga tidak dikatakan lebay oleh para kaum muda.

Langsung saja ke contohnya, yakni “Jika ingin terkenal membacalah“ penggunaan bahasa yang tepat dapat membuat masyarakat terpengaruh dengan isi slogan tersebut. Walau dalam konteks agama salah karena ingin terkenal, tetapi bila rutin membaca bahkan menulis apa lagi, bukan tidak mungkin ia bisa mendikte sendiri bahwa slogan yang di temukan salah. Dan benar bahwa itu salah, bagi masyarakat yang menyadarinya berarti masih termasuk dalam orang yang terpelajar. Dari sini kita bisa lihat respon dari mereka, dan perbedaan dari yang apatis dan kritis akan terlihat.

Kemudian, semboyan-semboyan yang membangkitkan semangat membaca dan menulis, lalu juga bahaya bila tidak menerapkan budaya literasi boleh jadi akan menjelma sebuah ketakutan yang tidak ingin di rasakan. Seperti “Tidak Membaca sesat di jalan. Malu menulis goyah fikiran” Rasanya pesan yang harus di sampaikan dalam hal menakuti bukan lagi dengan maksud untuk “Mencegah” tetapi dengan maksud “Menghilangkan”. Hilangkan kebiasaan apatis mereka, tumbuhkan semangat keingintahuannya setelah melihat tulisan semacam tadi.

Contoh kata slogan yang mencegah “Ilmu adalah jendela dunia“ dengan kata jendela dunia dapat di indikasikan ia bermakna pengetahuan besar untuk mengetahui semuanya. Namun apakah masyarakat awan bisa menerima dengan akalnya? Alhasil, tulisan yang kurang eksklusif seperti ini bisa-bisa di sepelekan oleh para pembaca.

C. PENUTUP
Sebenarnya untuk menyampaikan penerangan kepada masyarkat dapat digunakan lebih dari media slogan dan papan reklame seperti radio, televise, film dan pers. Tapi yang lebih dimudah dalam pelaksaannya dan memakan waktu dan biaya yang tidak begitu lama dan besar adalah media yang di ulas di atas. Mengingat metode pendekatan hanya bisa diterapkan di dua media tersebut, bayangkan jika di televis semboyan untuk membangun budaya literasi di tampilkan. Apakah akan bertahan lama? Lalu bagaimana dengan iklan yang sudah menunggu jauh hari. Jadi media ini masih ada ketergantungan bisnis dalam menghidupi medianya ke depan, sedangkan tujuan pegiat literasi adalah murni bukan untuk sambilan berbisnis.

Dalam kesempatan ini saya sangat berterimakasih kepada pihak penyelenggara terutama dinas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau. Harapan saya dengan adanya program yang bertemakan “Membangun Karakter Bangsa melalui Budaya Literasi” dapat membantu mahasiswa/i kita (KEPRI) untuk bersaing dalam membentuk Mahasiswa yang kreatif, inovatif serta mampu membangun dan mengembangkan budaya Literasi terhadap masyrakat luas, Jadi semoga tahun depan digalakkan kembali dan bukan hanya sampai disini saja –ketika telah menemukan program yang tepat- tapi juga terus dan berkelanjutan.

Kesimpulan
Dari paparan di atas dapat di simpulkan bahwa perlu adanya sebuah reformasi dalam hal penyampaian maksud melalui media reklame dan slogan, yakni lebih tepat ke inti permasalahannya serta tidak lagi memakai kata-kata lama yang sudah terlanjur masyarakat pahami sebagai angin lalu. Semoga dengan adanya karya ini bisa menumbuhkan sebuah gerakan yang bisa mengobati penyakit sosial dan berbagai penyakit lainnya. Mungkin banyak cara lain selain ini, namun hanya Tuhanlah yang menentukannya, kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan berusaha untuk yang terbaik.
Demikian karya saya yang khusus dipersembahkan untuk panitia dalam memenuhi Lomba Menulis Esai untuk Mahasiswa Se-Provinsi Kepulauan Riau, serta juga untuk menunaikan hak saya sebagai seorang penulis pemula. Dimana saat ini saya juga tengah membangun sebuah wadah untuk mahasiswa karimun dalam hal meningkatkan budaya literasi di lingkungan mahasiswa Kabupaten Karimun melalui blog saya Irudnews.blogspot.com.

Akhir kata tidak ada gading yang tidak retak, dan tidak ada kata sempurna kecuali hanya milik-Nya. Kesalahan dalam penulisan, baik itu bahasanya dan bentuk pedoman penulisan harap dimaklumi karena saya hanyalah manusia biasa.


Serangkaian Acara MGJ UK "7 Tahun Mengabdi Kepada Kampus"


Rabu malam (06/10/2016) Mapala Gunung Jantan Karimun melaksanakan serangkaian acara yang di mulai dari pukul 19:00 hingga tengah malam. Lokasi yang terletak tepat di depan sekretariat MGJ Karimun membuat suasana malam hari di kampus UK tidak seperti biasanya. Hadirin yang di undang tergolong cukup ramai, ada yang dari mahasiswa UK dan juga tamu undangan khusus seperti alumni mahasiswa pecinta alam lainnya yang berasal dari kampus kota besar.

Kegiatan di awali dengan pelantikan pengurus baru dan juga disertai dari kata sambutan dari beberapa pengurus senior serta pembina MGJ Karimun. Dalam kesempatan ini, selaku ketua MGJ Karimun yang baru saja dilantik malam tadi yakni saudari Novia Anggraini, menyadari beban yang di embannya kedepan akan semakin besar. "Kepemimpinan dari saudara Wisnu Priyambodo sudah lebih baik dari yang diharapkan, saya hanya melanjutkan estafet kepemimpinan ini agar lebih baik lagi dan ini juga merupakan tantangan tersendiri bagi saya dan khususnya bagi pengurus baru yang lantik" Kata Novia Anggraini.

Mengangkat tema 7 Tahunnya Mapala Mengabdi Pada Kampus Universitas Karimun. Memberikan sinyal yang positif terhadap UKM ini, dengan usia yang terbilang muda sudah banyak program yang dijalankannya serta kontribusinya terhadap kampus Univeraitas Karimun.

Lalu acara terakhir di isi dengan olah vokal dari para fungsional pihak Mapala Gunung Jantan Karimun serta tak ketinggalan mahasiswa dan dosen UK juga menyemarakkan dengan menyumbang beberapa sebuah lagu.

Berikut adalah foto serangkaian acara MGJ Karimun tadi malam :





Merobohkan Budaya Mahasiswa Apatis Terhadap Hukum (Mahkamah Konstitusi)


Pernahkah kita melihat lembaga-lembaga di indonesia ini berselisih lalu mendatangi ke gedung MK?? Pasti pernah, nah dalam kasus tersebut apa sebenarnya yang di perselisihkan? Kenapa harus mengadu kepada MK? kenapa tidak diselesaikan secara politik?

Jawabannya, disebabkan oleh sistem ketatanegaraan yang diadopsi Indonesia dalam ketentuan UUD 1945 sesudah perubahan pertama(1999), Kedua (2000), Ketiga (2001), dan keempat (2002), mekanisme hubungan antarlembaga negara bersifat horizontal, tidak lagi bersifat vertikal. Sekarang tidak ada lembaga tertinggi negara seperti yang kita ketahui sebelumnya. MPR bukan lagi lembaga yang paling tinggi kedudukannya dalam bangunan struktur ketatanegaraan Indonesia, melainkan sederajat dengan lembaga-lembaga konstitusional lainnya, yaitu Presiden, DPR, DPD, MK, MA, dan BPK.

Hubungan antar lembaga diikat oleh prinsip checks and balances, dimana diakui sederajat tetapi saling mengendalikan satu sama lain. Karena sederajat timbul kemungkinan dalam pelaksanaan kewenangan masing-masing terdapat perselisihan dalam menafsirkan amanat UUD.

Jika timbul persengketaan pendapat semacam itu, maka diperlukan organ yang mengatur untuk memutuskan final atas hal tersebut. Yakni melalui proses peradilan tata negara yanv bernama Mahkamah Konstitusi.

Secara definitif, maksud dari sengketa kewenangan antarlembaga negara ialah perbedaan pendapat yang disertai persengketaan dan klaim antar lembaga negara mengenai kewenangan konstitusionalnya yang dimiliki oleh masing-masing lembaga negara tersebut.

Selain memutuskan perkara dalam sengketa kewenangan antar lembaga, MK juga berfungsi sebagai tempat mengadu bagi siapa saja selama ia warga negara indonesia terhadap undang-undang yang tidak relevan dan bermasalah dalam pelaksanaannya oleh lembaga yang terkait. Hal tersebut dinamakan pengujian materi undang-undang.

Cara penyelesaiannya dengan memberikan solusi hukum selama dipersidangan, sebab MK seyogyanya sebagai lembaga yang merdeka dari siapa saja -tidak boleh ada pihak yang mengintervensi- untuk menegakkan hukum dan keadilan di tingkat lembaga.

Melihat posisi maka Mahkamah Konstitusi ini posisinya unik. MPR yang menetapkan UUD sedangkan MK yang mengawalnya. DPR yang membentuk UU, tetapi MK yang membatalkannya jika terbukti bertentangan dengan UUD. MA mengadili semua perkara pelanggaran hukum di bawah UUD, sedangkan MK mengadili perkara pelanggaran UUD. Jika DPR ingin mengajukam tuntutan pemberhentian terhadap presiden dan atau wakil presiden dalam masa jabatannya, maka sebelum diajukan ke MPR untuk diambil keputusan, tuntutan tersebut diajukan dulu ke MK untuk pembuktiannya secara hukum.

Bahaya : Tertular Oleh Rasa Pesimis Mahasiswa Lain



Kurang percaya diri adalah suatu hal yang harus di hilangkan bagi seorang mahasiswa, salah satu penujang untuk berkarir di dunia kerja maka rasa kepercayaan yang tinggi perlu di galakkan sejak berada di lingkungan kampus. Rasa percaya diri bukan hanya seperti berani berdiri di depan lalu berbicara dihadapan puluhan bahkan ratusan orang, tetapi juga rasa percaya diri terhadap apa yang ingin kita lakukan, lebih tepatnya rasa optimisme.

Optimsme mahasiswa didapatkan ketika proses yang ia lalui sebelumnya, belajar dari pengalaman diri sendiri dan kesalahan orang lain. Terlepas itu ada juga dari pembawaan kharakter yang bisa di dapat melalui lingkungan rumah atau pengaruh gen orangtuanya. 

Optimisme akan terlahir ketika semangat mengebu-ngebu untuk menginginkan sesuatu, lalu ketika di arahkan kepada orang sekelilingnya rasa optimis itu sendiri akan semakin meningkat seiring dukungan orang sekitar.

Nah, jiwa-jiwa optimisme seperti harus banyak di lahirkan dan tularkan kepada mahasiswa lain. Sebagai mahasiswa kritis, tentunya mereka tidak hanya memikirkan persoalan kampus, birokrasi daerah, serta politik nasional semata. Tetapi juga teman yang dianggap 1 angkatan ataupun 1 almamater perlu di ulas juga karena rasa kepedulian tadi lahir terhadap besar kecilnya dogma kritis yang dianut.

Sangat disayangkan ketika agenda-agenda baik telah direncakan dengan optimisme yang tinggi, sementara kelompok lain melakukan manuver dengan berdalih mencari kekurangan agenda yang di susun. Alih-alih ingin menampakkan kelemahan kepada orang, timbul rasa pesimis akan mengalir ke semua orang termasuk yang sang penggagas pesimisme. Semua tertular rasa pesimisme akibat dalil-dalil yang dipakai masuk akal. Namun tidak melihat kebaikannya dulu sebelum "mengkartu matikan" agenda tersebut.

Memang tujuannya bukan untuk "mengkartu matikan" agenda tersebut, hanya untuk sebagai koreksi akan kelemahan-kelemahan bila regulasinya seperti itu. Tetapi sebagai mahasiswa kita harus bisa membaca situasi, layak tidak kata-kata yang berdampak buruk akan merubah segalanya atau baiknya selain mengungkapkan rasa pesimis juga diganti dengan agenda baru dengan catatan memotivasi dan memberikan harapan serta optimisme tinggi.

"Jika masih banyak rasa kemungkinan-kemungkinan menyelimuti diri anda maka yang terlahir ialah rasa pesimis dan bisa-bisa harapan tersebut akan terkubur"