Bila engkau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka Menulislah. [Imam Al Ghazali]

Ingin Jadi Dokter Siswi Ini Giat Mengunjungi Pustaka Karimun


Meningkatnya minat baca pada usia anak-anak membawa angin segar bagi dunia literasi di Kabupaten Karimun khususnya di lingkungan pelajar. Dengan semangat sejak dini maka akan membentuk kharakter bangsa dalam mewujudkan manusia yang berkualitas, dan menjadi suatu harapan bangsa untuk meneruskan estafet pembangunan Indonesia yang maju secara menyeluruh.

Aktivitas dari seorang anak kecil yang satu ini dalam mewujudkan cita-cita menjadi dokter sungguh luar biasa. Patut di apresiasikan, betapa tidak. Untuk mengunjungi perpustakaan dalam hal mencari ilmu saja, seorang anak kecil kelas 5 SD rela menaiki oplet bersama temannya untuk sampai ke perpustakaan sehabis pulang sekolah. Harapannya hanya untuk menyantapi buku-buku yang terletak di rak perpusatakaan milik pemerintah daerah tersebut.

Ia mengatakan, bukan hari ini saja ia mengunjungi untuk membaca buku. Bahkan setiap hari sabtu adalah hari rutin untuk seorang anak kecil bernama lengkap Riski Ramadani. Kemudian, menuju kerumah pun masih tetap setia menggunakan oplet sebagai kendaran pulangnya. Wah, hebat sekali pengorbanannya dalam hal menuntut ilmu.

Semoga saja apa yang di inginkan anak SD 006 Karimun ini dapat terwujud di masa mendatang. Sebab tidak ada usaha yang pernah mengkhianati hasil, selagi kita ingin sukses maka usaha harus di upayakan dan tak lupa disertai doa.

Khusus para pegiat literasi, momentum harus di manfaatkan. Sebaiknya untuk mengundang lebih ramai minat baca pada kaum anak-anak di adakannya aktivitas yang menggairahkan, seperti perlombaan dan kegiatan-kegiatan lainnya yang dapat memberikan stimulus bagi perkembangan budaya literasi. Contoh kecilnya lomba membuat dan membacakan puisi. Agaknya acara ini tepat untuk di jadikan satu acara dalam hal mewadahi potensi para siswa-siswi di Kabupaten Karimun.

Hari Ini Mahasiswa Tidak Tahu Bentuk Perguruan Tinggi di Kampusnya


Ternyata, masih cukup banyak mahasiswa di luar sana yang tidak tahu bentuk dan tipe perguruan tinggi di Indonesia, terlebih tempat yang ia menimba ilmu sekarang. Padahal ketika telah menyandang gelar MAHA dan SISWA yang Maha artinya lebih diagungkan, harusnya hal demikian sudah disadari sebelum memasuki dunia perkuliahan. Karena sebagai mahasiswa kita harus pandai memilah tempat mana yang baik untuk mengenyam pendidikan sesuai dengan minat dam bakat kita. Perlu diketahui, setiap perguruan tinggi berbeda dengan yang lain, dari dalam proses perkuliahannya hingga berkaitan dengan karier yang akan dijalani nanti.

Baiklah, langsung saja kita simak penjelasan yang sesederhana ini.

1. Universitas

    Universitas merupakan perguruan tinggi yang terdiri dari beberapa fakultas, dan fakultas tersebut terdiri dari berbagai jurusan. Bentuk perguruan tinggi ini juga ada yang negeri seperti Universitas Indonesia dan yang swasta contohnya Universitas Karimun kebanggaan masyarakat Kabupaten Karimun.

    Dilihat secara fisik, universitas memiliki area luas dengan banyak gedung dan kelas. Jika secara gelar yang diberikan, universitas memberikan lebih dari satu gelar sesuai dengan jenjang -S1, S2, S3- dan jurusannya masing-masing.

2. Institut

    Menyelenggarakan pendidikan untuk kelompok disiplin ilmu pengetahuan sejenis adalah pengertian dari Institut. Sama seperti universitas yang memiliki fakultas, tetapi masih tetap dalam jalur atau jenis keilmuan yang sama. Biasanya Institut menawarkan jurusan-jurusan yang sifatnya lebih spesifik.

    Salah satu institut yang terkenal adalah ITB (institut Teknologi Bandung), ITB memiliki fokus keilmuan yang berkaitan dengan teknologi dan sains. Mantan presiden kita, yakni Prof B.J Habibie dan walikota Bandung 2013-2018, Ridwan Kamil, merupakan beberapa alumni dari perguruan tinggi tersebut.

    Dalam prosesnya mahasiwa yang memiliki ketertarikan ilmu yang sama akan sering bertemu, hal ini berbeda dengan universitas yang di dalamnya terdapat berbagai mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan.

3. Sekolah Tinggi

    Sekolah Tinggi akan lebih fokus atau berkonsentrasi pada satu lingkup keilmuan saja dan cakupannya lebih kecil dari institut.Contohnya Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Cakrawala. Pada sekolah tinggi biasanya hanya memiliki satu fakultas saja, jurusan yang ditawarkan pun biasanya tidak terlalu banyak. Karena memiliki konsentrasi yang pada bidang tertentu, secara fisik sekolah tinggi memiliki area yang relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan universitas atau institut.

4. Akademi

    Selain perguruan tinggi yang sudah dibahas di atas, ada juga perguruan tinggi yang berbentuk akademi. Akademi merupakan bentuk perguruan tinggi yang lebih spesifik, karena hanya fokus dalam penyelenggara pendidikan untuk suatu keilmuan dan keterampilan yang bersifat khusus.

    Beberapa akademii yang di sering kita dengar di antaranya adalah akademi kebidanan, keperawatan, pariwisata, kepolisian dan akademi militer (akmil). Karena bersifat khusus mak beberapa akademi dapat menentukan bentuk seleksi dan persyaratan masuk yang diperlukan terhadap calon peserta didik. Apalagi bila akademi tersebut memiliki ikatan dinas, tentunya proses penerimaan peserta didiknya akan lebih selektif.

5. Politeknik

    Politeknik ialah penyelenggara program pendidikan dalam jumlah bidang pengetahuan khusus, dan ia juga merupakan pendidikan vokasi. yakni pendidikan yang diarahkan pada penerpan dan penguasaan kehalian terapan tertentu.

   Jenjang pendidikan pada politeknik adalah Diploma I, Diploma II, Diploma III, dan Diploma IV (setara S1). Meski saat ini sudah jarang politeknik yang menyelenggarakan pendidikan untuk Diploma 1 dan II. Jika ingin melihat secara langsung bagaimana ruang lingkupnya perguruan tinggi berbentuk politeknik, pergi saja ke Batam dan di sana ada salah satu Politeknik terbaik Indonesia yakni Politeknik Negeri Batam.

Sofian.
Kabid Humas Hima-MKP UK

Budaya Mahasiswa Mulai Terancam Hilang


Semua mahasiswa pastinya mengerti akan perubahan zaman, karena mereka merupakan bagian dari objek yang merasakannya. Namun apa mahasiswa sekarang masih tetap idealis sebagai mana dengan mahasiswa dulu.

Sudah saatnya dipertanyakan apakah masih ada jiwa semacam itu bersarang di dalam diri mereka. Gelar prestisius yang disandang mahasiswa, seperti agent of social change, agent of control, agent of transformation, dan intelektual muda kini sudah kurang populer untuk ditempelkan di atas nama mereka. Agaknya motivasi bung karno yang terkenal dengan "Mengguncang dunia hanya dengan 10 pemuda" telah menjadi buian kosong dan tidak logika menurut akal mereka. Wajar saja seandainya demikian, karena zaman menuntut mereka untuk di ikuti dan kesadaran cinta tanah air untuk memajukan bangsa hanya sebatas pandai menyanyikan lagu indonesia raya.

Mari kita mencoba untuk melakukan refleksi singkat sekaligus membandingkan aktivitas mahasiswa dahulu dengan aktivitas mahasiswa zaman sekarang. Jika ada sebagian orang mengatakan bahwa aktivitas-aktivitas mahasiswa dahulu sudah tidak relevan untuk dipraktekkan mahasiswa zaman sekarang, pada level tertentu mungkin itu benar adanya, tapi tidak seluruhnya benar. Sebab, ada beberapa aktivitas atau budaya mahasiswa yang memang harus tetap dijaga kelestariannya serta berkesinambungan, seperti membaca buku, berdiskusi, melakukan advokasi masyarakat, melakukan kritik terhadap pemerintah, menyampaikan aspirasi, melakukan pertemuan-pertemuan antar mahasiswa, serta agenda-agenda positif lainnya.

Mahasiswa pekerja sosial. Bukan! Tetapi mahasiswa harus mampu menunjukkan bahwa, mereka agen yang siap menyelesaikan berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat, dan siap memberikan gagasan cerah pada saat menghadapi suatu persoalan. Minimal, mahasiswa harus jeli melihat sesuatu yang dapat dikategorikan sebagai sebuah permasalahan, atau jangan-jangan mahasiswa zaman sekarang sudah tidak mengerti sesuatu yang disebut masalah?

Penyebab akibatnya pergeseran budaya bisa saja karena faktor internal maupun eksternal mahasiswa itu sendiri. Dalam perspektif psikologi perkembangan, lingkungan adalah faktor kuat yang dapat mempengaruhi pola pikir serta tingkah laku seorang individu. Artinya, perubahan pola pikir serta tingkah laku individu sangat erat kaitannya dengan kondisi lingkungan di mana ia hidup, sebab kondisi lingkungan mengikuti perubahan zaman, dan itu merupakan hukum alam, meskipun sebenarnya manusia itu sendirilah yang membuat perubahan-perubahan tersebut.

Manusia harus mampu memproteksi diri dengan menggunakan akal serta mampu membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Melihat relita aktivitas mahasiswa -kecuali belajar-, menjadikan kegiatan tersebut termasuk ke kategori keinginan. Padahal dalam konteks bermasyarakat kedepannya mahasiswa akan berbaur bersama rakyat, sehingga dengan banyaknya wadah dan aktivitas maka akan menjadi manusia yang berguna bagi banyak orang. Maka suatu keharusan keinginan di ganti dengan makna kebutuhan!

Sebagian orang menganggap wajar pergeseran-pergeseran itu terjadi akibat perubahan arus zaman. Dan sebagian lainnya menyalahkan proses pembelajaran di kampus yang tidak mampu menumbuhkan kesadaran (kognitif) mahasiswa. Ada lagi sebagian lain justru menyalahkan individu-individu mahasiswa itu sendiri karena dianggap lebih memilih gaya hidup hedonis nan pragmatis, enggan untuk diajak berpikir dan berjuang. Bahkan, ada lagi sebagian lain yang justru beranggapan agak ekstrim, bahwa mahasiswa zaman sekarang tidak cerdas dan jika boleh dikatakan, bodoh

Terlepas dari hal itu, apa pun faktor yang menjadi penyebab pergeseran budaya mahasiswa tersebut harus kita akui bahwa realitas seperti itu memang sungguh-sungguh terjadi dan jangan mencoba tutup mata, terutama kepada mereka yang memiliki tanggung jawab moral untuk mengembalikan peran serta fungsi mahasiswa. Karakteristik mahasiswa zaman sekarang memang sudah jauh berbeda dengan karakteristik mahasiswa zaman dahulu, dan itu sangat mudah menilainya dari aktivitas yang mereka pertunjukkan sehari-hari, baik di kampus maupun di luar kampus.

Masih segar ingatan kita ketika mahasiswa menjadi pelaku sejarah dalam menumbangkan rezim orde lama, kalau tidak ada Mahasiswa mungkin parlemen kesulitan dalam menumbangkan pemeritahan di bawah presiden Soeharto. Artinya, ada beban sejarah yang dipikul mahasiswa sekaligus ada suatu harapan yang membumbung tinggi atas keberadaan mereka di negeri ini. Mau di bawa ke mana citra, beban sejarah serta harapan besar itu?

Kelompok Baru di Dunia Mahasiswa | Komunitas Alfa Sejarah


Masyarakat Indonesia saat ini, terlebih yang muslim tampaknya tengah terserang demam komunitas alpa sejarah. Apa itu komunitas alpa sejarah? Komunitas alpa sejarah adalah sebuah kelompok atau elemen masyarakat yang tidak mempunyai sejarah, itu bahasa kasarnya. Kalau bahasa halusnya berarti masyarakat yang melupakan sejarahnya atau sengaja dibuat lupa oleh pihak luar.

Presiden pertama kita, Bung Karno, pernah berpesan, “Jangan sekali-kali melupakan sejarah,” alias jas merah. memang benar pesan Bung Karno tersebut. Yang menjadi masalah adalah ketika sejarah otentik sulit untuk didapatkan, apa yang harus dilakukan?

Saat ini, harus kita akui bersama bahwa sejarah Indonesia dan Melayu telah raib digondol tuyul. Bukti-bukti yang berupa prasasti hanya sedikit, itupun dari zaman Hindu Buddha. Apalagi bukti artefak yang sengaja dibom oleh Belanda agar masyarakat Indonesia, khususnya muslim tidak tahu akar sejarahnya.

Coba tanyakan pada mahasiswa kita, apa itu Kesultanan Aceh, Samudra Pasai, Perlak, Pelembang, Banten, Demak, Pajang, Mataram, Girinata, Tidore, Gua Talo, Buton, dan kesultanan-kesultanan lain, apakah mereka tahu? Atau jangan-jangan mereka hanya tahu Majapahit, Kediri, Singosari, Mataram Kuno, Sriwijaya, dan sejenisnya?

Manusia yang histori akan gila. Terombang-ambing. Begitulah masyarakat Indonesia. Mereka sibuk caplok sana caplok sini dalam mencari pedoman hidup. Padahal, mereka telah memiliki sejarah dalam sosial, sejarah dalam politik, sejarah dalam ekonomi. Namun sekali lagi, masyarakat kita terlahir dari komunitas alpa sejarah.

Mari kita bandingkan dengan Eropa Timur. Dalam sejarah Eropa Timur kita mengenal Emperium Ottoman. Sebuah kesultanan islam yang selama enam abad mengenggam peradaban dunia.

Pada tahun 1942, Ottoman runtuh dan digantikan oleh sistem sekuler yang dibawa oleh Mustafa Kamal, seorang Yahudi. Setelah lama berjalan, kurang lebih 80 tahunan, ternyata sistem sekuler kamalistik malah membuat Negara Turki terpuruk. Moralnya, ekonominya, politiknya, demokrasinya, semuanya terpuruk. Hingga akhirnya muncul sosok presiden yang saat ini ingin mengembalikan sejarah keemasan Turki masa lalu.
Dan ternyata benar saja, di tangannya Turki menjadi negara terkuat peringkat 16 dunia. Luar biasa. Mengapa demikian? Karena dalam kamus orang Turki, negara mereka pernah maju dengan sistem Islam, dan hancur karena sistem sekuler.

Rakyat Turki benar-benar paham sejarah mereka dan mereka tidak bisa ditipu. Terbukti jutaan rakyatnya turun untuk membela sang Presiden yang hendak dikudeta dan dibunuh militer, 15 Juli yang lalu. Kalau bukan karena paham sejarah, melek sejarah, saya yakin rakyat Turki tidak akan bangun dari tidur malamnya untuk membantu sang Presiden.

Sekarang kita lihat Negara kita. Sejarah kita telah diperkosa, dilecehkan, dilenyapkan dan dibunuh. Sejarah kita telah hancur oleh Snouck. Dalam sejarah kita, hanya dikisahkan bahwa Nusantara dan Melayu ini hanya pernah berjaya ketika Sriwijaya dan Majapahit berkuasa. Namun tidak pernah dikisahkan bahwa kesultanan Islam Nusantara jauh melebihi keberhasilan Majapahit dan Sriwijaya.

Peradaban Islam kalah itu pun gemilang. Terbukti dengan ribuan karya Ulama Nusantara yang tersimpan rapi di Perpustakaan Oxford University. Dan nahasnya, yang ditinggalkan kepada kita hanya kisah-kisah klenik Walisongo tanpa bisa merasakan karya-karya tulis para Ulama kita.

Apa maksud mereka? Mereka paham, sejarah bisa menjadi racun peradaban jika diselewengkan dan menjadi obat jika terjaga kemurniannya.

Dan orang-orang luar tersebut berhasil menjadikan sejarah kita sebagai racun untuk membunuh kita. Sekarang apakah kita berani untuk merubah racun tersebut menjadi obat? 

PMII Karimun Menghadiri Acara Peringatan HUT Patron DPC Karimun Yang Pertama


Sabtu, 10 September PC PMII Karimun menghadiri acara peringatan HUT yang pertama bagi Patriot Nasional DPC Karimun yang beralamat di Kuda Laut, Kolong Bawah, Kecamatan Karimun, Kabupaten Tanjung Balai Karimun.

Dalam kunjungan acara tersebut yang di komandoi oleh sahabat Parizal selaku ketua PC PMII Karimun, beserta jajarannya memberi sinyal bahwa kehadiran Patron selama satu tahun adalah harapan bagi kami, terlebih PMII yang belabel dari almamater setiap kampus yang berbeda, juga sedari awal fungsinya selain menjalankan Tridharma Perguruan Tinggi tentunya juga mengawasi jalannya roda pemerintahan setempat.

Setali tiga uang, salah satu anggota PMII Karimun yang hadir, yakni sahabat Hermansyah mengatakan. Walau dengan konsep acara yang sederhana, bertemakan peringatan ulang tahun dan sekaligus pelantikan pengurus baru. Setidaknya memberikan harapan kami bahwa bukan mahasiswa saja yang ikut berperan aktif mengawasi serta menjembantani antara rakyat dengan pemerintah daerah, buktinya dengan keberadaan 1 tahun sudah banyak kegiatan yang Patron lakukan. Salah satunya melakukan kegiatan bedah rumah di pulau kambing.

Pelantikan secara simbolis tersebut di lantik langsung oleh ketua Patron Pusat, Brigjen Prn. TNI Drs. Abdul Salam. Tamu undangan yang hadir terdiri dari perwakilan Bupati Karimun, kodim 0317/TBK beserta rombongannya, Danlanal TBK, dan Ketua OKP-OKP L yang bernaung di wilayah Kabupaten Karimun.

*Bidang Media dan Informasi PMII Karimun

Mahasiswa Bukan Mahakuasa


Hari ini yang di takuti orang -pengacau- hanya ada dua, yang pertama adalah Mahakuasa dan kedua ialah Mahasiswa. Begitulah ungkapan para kaum intelektual dalam upaya menghibur diri dari keterasingan mereka. Terlalu dini bila mengatakan mahasiswa bagian dari momok para pengacau dalam bernegara, liat saja mahasiswa bukan 1 seperti tuhan, ia banyak dan tak terhingga. Sehingga watak, dan kharakter yang dihasilkan pun berbeda. 

Terkadang sulit untuk disatukan, butuh proses yang tidak sebentar untuk mewujudkannya. Tetapi, jika keresahan sudah sepenanggung maka kata perasatuan rasanya sulit untuk di elakkan.

Data empiris menunjukkan fenomena mahasiswa berdasarkan lingkungan mengakibatkan pengaruh besar bagi perkembangan mahasiswa itu sendiri. Dari perilaku dosen yang ia terima pun tak luput dari tumbuhnya asupan gizi intelektual seorang mahasiswa. Memang pada dasarnya, kembali lagi pada mahasiswa itu sendiri. Jika rasa dorongan tersebut belum timbul akibat dari masih labilnya -baru beranjak dari masa transisi menuju remaja dewasa (SMA)- seyogyanya dosen sebagaimana sama dengan orang tua, yakni terbuka melalui inisiatif untuk membuka lebih dalam lagi cakrawala dunia ini melalui pendekatan-pendekatan gaya khasnya  tersendiri.

Mahasiswa bukanlah mahakuasa, ia tidak bisa apa-apa kecuali hanya bisa berteriak di kala ia tertekan. Beralaskan semangat juang membela kebenaran dan harapan untuk mewujudkan sesuatu yang terbaik, bersenjatakan karton dan toa yang menjadi pembeda antara perusuh dan pendemo. Seakan mereka seperti tuan-tuan yang mereka hadapai sendiri, mereka belagak tahu hingga detail apa permasalahannya. Selama aksi berlangsung dogma yang mereka pegang ialah "praduga tak bersalah". Karena label mahasiswalah yang menyebabkan semuanya dapat terjadi.

Namun harus di ingat, mereka hanya manusia biasa seperti kita -masyarakat, pejabat, konglomerat- yang mempunyai perasaan juga, tidak semestinya langsung jadi, butuh proses, jadilah mereka merenung meratapi nasib aspirasinya. Beda dengan Tuhan yang dengan hanya berkendak maka jadila apa yang Ia mau. Tapi tidak untuk mahasiswa. Mereka harus menunggu, terkadang masa suntuk tersebut sirna begitu saja seiring liciknya dunia dengan berbagai loby atau tarik ulur dari yang berperan penting. Boleh jadi ketua dari para ketua, dan hampir-hampir boleh jadi semuanya jika di imingi-imingi dengan berbagai kekayaan duniawi.

Dari Pada Ekspos Karya Orang Lebih Baik Ekspos Karya Sendiri


Patut di apresiasikan dikala anak muda di gandrungi dengan kisah cintanya, keluh kesah mengenai pasangannya, ada sebagian anak muda di asyikkan dengan mengekapos postingan dari berbagai literatur yang pada dasarnya untuk kebaikan semua orang. Seperti orang yang kehausan, mereka tidak ingin ketinggalan dari berbagainya informasi yang interaktif, setiap hari 4 bahkan 5 postingan hadir di mensos. Salah satunya media facebook, membuka beranda FB sekarang bukan saja ada tampilan berita/artikel yang berasal dari sumber aslinya, namun kini anak muda pun telah disibukkan dengan mencari informasi apa yang harus teman saya ketahui. Seolah tidak ingin kalah dengan kaum tua yang notabane sebagai generasi pengingat.

Untuk ukuran dalam berbagi ilmu boleh-boleh saja, tetapi dengan memanfaatkan media kita bisa menjadi lebih dari seorang pengekspos berita. Secara tidak langsung kita telah membaca terlebih dahulu sebelum mereka mengetahuinya, ingin melihat apakah si pengekspos paham atau tidaknya dari isi berita tersebut, lihat dan nilailah komentar yang ia kemukakan dikala postingannya digubris oleh orang-orang pada jendela FB.

Apa dengan rutinitas tersebut anda belum mampu untuk mencerita melalui sebuah goresan tinta ke kertas -menulis dengan mengetik- yang secara khusus dimiliki hanya sebagian orang? Coba fikirkan lagi, sedikit banyak menulis semuanya akan bermanfaat pada diri sendiri. Kemampuan nalar akan meningkat, berfikir visioner melaju seiring dengan sering menulis, bakat terhebat akan di dapati, dan lain-lain. Kemudian, bonus untuk orang lain yang membacanya, jadi apakah masih ingin mengekspos berita lain yang sementara hanya kebaikan pada diri sendiri -pahala yang didapat- dan orang lain -ilmu yang bermanfaat.

Universitas Karimun Harus Seperti UMRAH



Kampus yang sehat adalah kampus yang benar menjalankan tri darma perguruan tinggi, yakni pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan dan pengabdian kepada masyarakat. Bagi kalangan akademis penelitian merupakan tujuan mutlak dari eksitensinya perguruan tinggi. Tak lupa juga dengan mengembangakan hasil penelitian yang berpotensi membawa hawa baik dalam peradaban di skala nasional, regional atau jenjang yang lebih kecil sekalipun. Lalu, setelah melakukan kegiatan dua hal tadi rasanya tidak tepat hanya sebatas bergulat dengan teroritis. Baiknya dilakukan dengan turun langsung ke lapangan bersama rakyat untuk mewujudkan apa yang telah didapat selama berada di bangku kuliah.

Namun nyatanya, kampus yang sehat tidak seperti di harapkan. 70 persen mahasiswa di Universitas Karimun adalah pekerja dan sisanya non pekerja, dengan data ini apakah bisa menjadi kampus yang berkualitas menurut tri darma perguuan tinggi. Agaknya hanya pengabdian yang bisa dilakukan, tetapi tidak seperti mahasiswa kebanyakan. Yang siap secara mental, intelek, dalam menangani berbagai masalah di lapangan. Wadah saja tidak cukup, belum lagi masalah waktu yang terbuang hanya untuk bekerja. Tidak bekerja maka tidak bisa kuliah, barangkali slogan seperti ini sudah menjadi motto dari masing-masing individu. Terlepas itu semua, ada sebagian mahasiswa yang aktif dari kegiatan kemahasiswaan. Namun jumlahnya tidak banyak, dan lambat laun mahasiswa yang berpeluang besar dalam kesuksesan di masa depan ini, dalam ketertarikannya mereka akan terpengaruh oleh lingkungan sekitar seiring bergulirnya waktu.

Lalu bagaimana solusinya? Apakah kampus ini dipindahkan ke yayasan yang lebih bertanggung jawab. Atau dikembalikan ke pemerintah untuk mengurusinya. Mungkin jawaban yang terakhir amat tepat, jika melihat situasi yang ada di civitas akademika Universitas Karimun. Bayangkan bila kampus berbaju negeri hadir di Kepri -berarti  ada 3 bila terwujud. Tentu akan memacu lagi semangat kampus lainnya dalam bersaing di kancah pendidikan terutama prestasi dalam pengabdian masyarakat. Baru-baru ini Politeknik Negeri Batam telah berhasil mengembangkan mikro chip dan juga mereka telah berhasil membangun kerja sama dengan perusahaan besar.

Lalu, UMRAH dengan segudang akses telah banyak menuai keberhasilan, kegiatan kemahasiswaannya telah banyak di ikuti dalam level yang lebih tinggi, regional maupun skala nasional dengan aktifnya kegiatan kemahasiswaanya. Dan terakhir, sebuah nama yang sulit untuk di banggakan. Entah itu kekurangan informasi atau memang tidak ada prestasi, yang jelas. Kami masih tertinggal, bahkan jauh tertinggal.

Menurut salah seorang dosen Universitas Karimun, ketika UK menjadi Perguruan Tinggi Negeri maka anak tempatan akan sulit untuk menagambil kesempatan tersebut. Kenapa?? Menurutnya dari hasil tes tertulis setiap tahunnya, menunjukkan bahwa calon mahasiswa yang berasal dari Karimun mayoritas tidak memenuhi standar kelulusan. Tapi apakah mindset seperti itu akan terus dipakai? Rasanya tidak, apa lagi jika kampus lain tengah berbondong-bondong memperbaiki sarana-prasarana, dosen, sistem hingga mata kuliah yang sesuai dengan tuntutan zaman. Sementara kita hanya berdiam diri tanpa melakukan perubahan besar.

Benar, sekali lagi kita akan ketinggalan jauh, mahasiswa Karimun masih di anggap lugu, labil, belum dewasa untuk menyikapi di semua hal, termasuk halnya sendiri. Memajukan diri sendiri, kampus dan daerahnya sendiri.